Sekolah Boarding Ala Pesantren

Filed under:  Profil  by:  

SMA Darul Ulum 2 Jombang

Kental dengan suasana pondok pesantren. Siswa menjalani kehidupan sekolah dan pondok. Menjadi sekolah unggulan setelah bermitra dengan BPPT.

Jombang identik dengan pesantren. Di sana memang banyak sekali pondok pesantren. Sampai-sampai ada pemeo: Jombang adalah pusat pondok pesantren di tanah Jawa. Hampir seluruh pendiri pesantren di Jawa memang pernah berguru di Jombang. Sebut saja pondok pesantren kesohor di Jombang, dari pondok pesantren Tebuireng, Denanyar, Tambak Beras, dan Darul Ulum. Read more…

MENGEMBANGKAN POTENSI ANAK

Filed under:  Profil  by:  

ECCD-RC Yogyakarta

Didirikan tiga LSM beda karakter. Menghapus bias jender, perbedaan ras, dan agama. Semua anak dari beragam latar belakang mempunyai hak sama untuk mendapatkan pendidikan.

TAK ada meja-kursi layaknya sebuah kelas. Kalau pun ada hanya beberapa. Anak-anak belajar memanfaatkan sejumlah area. Ada yang belajar di area bermain peran, area persiapan baca tulis, area balok dan area cair. Anak-anak bebas bermain dengan koleksi beragam mainan, baik buatan pabrik maupun karya mereka sendiri. Ada yang terbuat dari bahan-bahan sisa, sebagian dari bahan alami. Semua mainan dipilih yang bisa memberikan rangsangan motorik, pola pikir (kognisi), kreativitas, kemampuan berbahasa dan rasa sosial anak. Read more…

Membagi Ilmu Hingga Senja

Filed under:  Inpirasi  by:  

Prof. Ir. Hardjoso Prodjopangarso

Di usia 84 tahun masih mengajar program S-2 dan melakukan penelitian tentang teknik sipil hidro tradisional. Pensiun dini di usia 56 tahun agar bisa melanglang ke sejumlah daerah untuk memecahkan masalah pengairan. Menciptakan Tripikon, Pinastik A, Nyi Bunga Sihir, dan Nalareksa Bak Jantung. Tak haus tropi dan penghargaan. Resep bugarnya, mengangkut air di tengah malam.

BEBERAPA mahasiswa nampak duduk santai di halaman depan gedung Laboratorium Teknik Tradisional Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Mahasiswa S-2 Program Teknik Sipil Hidro itu tengah menunggu kuliah yang diberikan Profesor Ir Hardjoso Prodjopangarso.

Tepat pukul 09.00, sesuai jadual, nampak Pak Dosen dengan perawakan kecil dan terlihat sangat uzur itu berjalan mendekati kerumunan mahasiswa itu. Profesor Hardjoso menyapa mereka dengan ramah. Ia berjalan pelan menuju ruang terbuka di sebelah gedung. Para mahasiswa mengikutinya. Selama 45 menit dosen sangat senior itu memberikan penjelasan mengenai teknologi tradisional pengairan pasang surut. Read more…

Dari Galak Menjadi Menyenangkan

Filed under:  Inpirasi  by:  

Bicara soal manajemen berbasis sekolah (MBS), bisa menghabiskan berjam-jam bila bercakap dengan Mulyadin, Kepala SD Selaawi 1 Sukaraja. Sekolah yang dipimpin Mulyadi, terletak di kaki gunung Gede. Tepatnya berada di kecamatan Sukaraja, pinggiran kota Sukabumi bagian timur, di perbatasan antara Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Cianjur.

Cerita Mulyadin berawal dari 3 gurunya yang stres karena penerapan MBS pada 2005. Setelah ia telusuri, ternyata selama ini guru-guru tersebut terbiasa dengan cara pembelajaran yang keras terhadap anak didik. Jelas berbeda 180 derajat dengan yang dikehendaki MBS: pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.

Mulyadin mulai melakukan pendekatan kepada tiga guru tersebut. Seorang guru mundur karena merasa tak mampu mengajar dnegan model PAKEM. Sedangkan dua lainnya bisa memahami kemauan MBS. Mereka mulai merubah pola mengajar yang keras menjadi lebih menyenangkan.

Hambatan di awal penerapan MBS, lambat laun mulai terkikis. Pembelajaran secara konvensional yang biasa dilakukan para guru, mulai tergantikan dengan pembelajaran menggunakan alat peraga. Berkat kesabaran dalam membimbing dan memotivasi, lambat laun guru menyadari bahwa pembelajaran yang dilakukan selama ini ternyata kurang tepat karena tidak membuat anak kreatif. Read more…

Membenahi Sekolah Dengan Coaching Program

Filed under:  Catatan Blogkensis  by:  

Program coaching begitu berkesan bagi Drs. H. Fatah Hidayat MM, Kepala SMAN 1 Bekasi. Ia telah mengikuti program coaching sejak Agustus 2007 lalu. Ketika itu ia menjabat sebagai kepala SMAN 5 Bekasi.

Ia punya pengalaman menarik ketika menjalankan program coaching di sekolahnya yang dulu, SMAN 5 Bekasi. Fatah melihat ada berbagai hambatan untuk memajukan sekolahnya. “Sebelum program coaching, hambatan yang saya temui dalam memimpin sekolah di antaranya kurangnya komunikasi antarguru serumpun, kompetisi yang kurang sehat di antara guru-guru, guru kesulitan menyampaikan pelajaran,” kata Fatah.

Tak hanya itu, kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) di sekolah juga belum solid. Menurut Fatah, penyebabnya ada salah anggap dari para guru bahwa MGMP hanya terdapat di tingkat kota dan kabupaten.

Melihat kondisi yang tidak kondusif itu maka sebagai kepala sekolah, Fatah mulai bergerak. Secara bertahap lewat program coaching, ia mulai melakukan pembenahan. “Saya memberikan sebuah pemahaman melalui diskusi apa itu tentang sebuah perubahan. Perubahan itu tidak saya diskusikan dalam sebuah seminar atau sebuah rapat bahwa kita harus berubah, tapi melalui sebuah diskusi,” kata Fatah.

Fatah mencoba cara lain dalam pendekatan kepada para guru. Ia mencoba berbicara dari hati ke hati dengan guru, di antaranya, mengenai betapa penting kerjasama satu dengan yang lain untuk kemajuan pendidikan di sekolah. Tak hanya itu, ia juga menekankan pentingnya peranan MGMP untuk melakukan perubahan di sekolah. “Tema yang saya angkat dalam proses coaching adalah pemberdayaan MGMP,” ujarnya. Read more…

Menebar Pesona Berbekal Asa

Filed under:  Profil  by:  

Berawal dari program uji coba dua buah kelas kecil ternyata hasilnya sangat memuaskan. Nilai Ujian Nasional yang dulunya rerata hanya berkisar 7,8 naik menjadi diatas 8 bahkan saat ini sudah mencapai 9,13.

Mencapai prestasi tinggi tak harus dengan biaya tinggi hal itu telah dibuktikan Drs. Catur Winarno, MM, Kepala SMPN 1 Trenggalek. Dengan anggaran sekolah hanya sekitar Rp 660 juta, berbagai prestasi tetap bisa diraih.

Sekolah yang berlokasi di Jalan Dr. Sutomo 10 ini merupakan SMP tertua di kota kripik. Letaknya berada di dekat pusat kota. Dengan menempati areal lahan seluas kurang lebih 16 ribu meter persegi sekolah ini kini tengah melanjutkan perjalanannya sebagai rintisan sekolah bertaraf internasional (SBI). Read more…

Tak Sekedar rumus Dan Angka

Filed under:  Profil  by:  

Resah melihat banyak guru tak memiliki kreativitas dalam mengajar. Kegiatan kepala sekolah dasar terjebak pada urusan administrasi karena sekolah tidak punya tenaga tata usaha.

Satu ketika, Damarasih menyaksikan seorang guru SD tengah mengajar matematika. Ia menilai sang guru kaku dan kurang luwes mengajar, sehingga para siswa tampak menerima pelajaran tidak dengan sepenuh hati.

Sebagai pengawas TK/SD, Damarasih punya tanggung jawab untuk mencari solusi dan strategi pembelajaran yang pas. Ia mulai mempelajari berbagai metode mengajar. Ia pun harus membenahi strategi pembelajaran guru. Damarasih memandang perlunya media pendukung dalam pembelajaran matematika. Karena media peraga matematika tak semuanya dijual dan disediakan toko-toko, guru harus jeli, cermat dan kreatif menciptakan alat peraga.

Menurut Damarasih, semua guru tidak hanya guru matematika, harus bisa menganalisis kurikulum mana yang membutuhkan alat peraga. Misalnya, guru matematika bisa membuat alat peraga berdasarkan pada rumus-rumus. “Contohnya volume limas sepertiga luas alas dikalikan tinggi. Darimana kok bisa ketemu sepertiga,” kata Damarasih.

Dengan bimbingan tambahan, guru bisa memahami konsep rumus matematika. Dengan alat peraga, siswa tak sekadar diberi rumus tapi juga diajak belajar menemukan rumus sambil bermain. “Tahap pembelajaran matematika harus utuh dari penanaman diikuti pemahaman. Pemahaman konsep dan keterampilan proses jangan sampai hanya melalui teori dengan berceramah. Hal ini yang ingin saya benahi,” kata Damarasih. Read more…

Menjadikan Kiblatnya Sekolah Pertanian dan Kelautan

Filed under:  Inpirasi  by:  

Ade Sopiali, S.Pi, M.Pd, Kepala SMK Negeri 1 Jepara

Hadir sebagai kepala sekolah saat kondisi sekolah nyaris gulung tikar. Penerimaan siswa baru cuma menjaring 9 calon siswa. Kini menjelma menjadi rintisan sekolah bertaraf internasional. Jawaranya lomba kompetensi siswa tiga tahun terakhir.

“Waktu pertama kali datang ke sekolah ini kondisinya sangat memprihatinkan,” kata Ade Sopiali, yang mulai menjabat Kepala SMK Negeri 1 Jepara sejak 2000. Jangankan bicara prasarana sarana sekolah yang sangat minim. Lokasi sekolah saja masih sulit dijangkau.

Jalan menuju sekolah adalah jalan buntu yang tidak dilalui angkutan umum. Jalannya punya hanya tanah biasa yang selalu becek saat musim penghujan tiba. Sehingga banyak siswa tak masuk sekolah kala hujan tiba di pagi hari.

Selain itu, sekolah yang terletak di Jalan Gudang Sawo Km 1,5 Jepara ini tidak tersambung jaringan telepon dan air bersih. Saat Ade Sopiali dipercaya menjadi kepala sekolah, ia menilai SMK 1 Jepara mirip bangunan yang lama tak berpenghuni. “Waktu itu rumput-rumput di halaman sekolah tinggi-tinggi,” katanya.

Anggaran tahunan sekolah ternyata cuma Rp 27 juta. Biaya listrik setahun saja totalnya Rp 16 juta. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya mengembangkan sekolah yang berdiri di atas lahan seluas 16,5 hektare itu.

Ketika ia ditugaskan di SMK 1 Jepara, kala itu bertepatan dengan tahun pelajaran baru. Hingga hari terakhir penerimaan siswa baru, hanya ada 9 siswa yang mendaftar. Dari segelintir calon siswa tersebut, 6 orang di antaranya berniat mengundurkan diri. Padahal sekolah mampu menampoung 4 kelas, dengan jumlah siswa masing-masing kelas 36 orang. “Proses pendaftaran siswa baru diperpanjang hingga Oktober,” kata Ade. Read more…

Melahirkan Mutiara Papua

Filed under:  Profil  by:  

Konsep sekolah berasrama sukses melahirkan sekolah unggulan. Siswanya, Septinus George Saa menjadi peraih emas kompetesi internasional. Mengirim guru hingga Australia.

Lebih dari satu dekade lalu, tepatnya 18 Agustus 1995, Gubernur Irian Jaya Freddy Numberi mencanangkan pendidikan berpola asrama di SMA Negeri 3 Jayapura. Sekolah ini dijadikan sekolah unggulan khusus bidang IPA di provinsi paling timur Indonesia itu. Pembangunan sekolah ini dimaksudkan untuk meningkatkan sumber daya manusia putri-putri Papua yang berkualitas sehingga mampu bersaing dengan siswa lain di berbagai daerah di Indonesia.

Sekolah ini terletak di bumi perkemahan Cenderawasih, Waena, Abepura, Papua. Lokasinya sekitar 300 meter di atas permukaan air laut. Cukup sejuk. Kesejukan semakin nyaman saat menyimak perkembangan pesat sekolah yang kini lebih dikenal dengan sebutan SMA Buper alias bumi perkemahan. Pastilah masyarakat pendidikan tidak lupa dengan prestasi yang ditorehkan Septinus George Saa sebagai peraih medali emas pada ajang The First Step To Nobel Prize In Physics.

Septinus George Saa bukanlah satu-satunya putra terbaik Papua. “Masih banyak putra Papua sebaik George Saa. Namun karena kendala pembinaan sejak SMP kurang, sehingga yang masuk SMA,” kata Drs. Yunus Boari, Kepala SMA Negeri 3 Jayapura.

Sekolah unggulan ini sejak awal memang diniatkan untuk merekrut bibit unggul lulusan SMP sekualitas George Saa. Seleksi calon siswa dilaksanakan di tingkat kabupaten dan kota. Setiap kota/kabupaten mengirim empat siswa terbaik, yang terdiri dari 3 putra daerah, dan seorang nonPapua. Masing-masing pemerintah kabupaten/kota membiayai sepenuhnya pendidikan selama sekolah di sana. Bahkan biaya harian di asrama yang sebesar Rp 22.500 per orang juga ditanggung pemerintah kabupaten/kota.

Di tahap seleksi, calon siswa berhadapan dengan tes empat mata pelajaran; Matematika, IPA, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Setelah itu ada tes wawancara. Sedangkan syarat administratif, calon siswa maksimal berumur 17 tahun, nilai surat tanda kelulusan khusus IPA, bahasa Inggris, dan bahasa Indomesia tidak kurang dari tujuh untuk putra daerah, sedangkan untuk nonputra daerah nilainya minimal delapan. Sedangkan nilai matematika, tidak boleh kurang dari 6,5 (putra daerah) dan 7 (nonputra daerah). Read more…

Meningkatkan Mutu Dengan Program Coaching

Filed under:  Catatan Blogkensis  by:  

Program coaching semakin banyak diterapkan di sekolah-sekolah. Pendengar yang aktif tidak sekadar mendengar namun juga mengarahkan orang untuk bisa menemukan jawaban atas persoalan yang dihadapi.

John Barr dan Hillary Eade terlibat dalam percakapan serius. Hillary memiliki beberapa permasalahan. Satu demi satu ia sampaikan kepada John. John dengan sabar mendengar, juga mengajukan pertanyaan satu demi satu. Secara tak sadar Hillary mampu menjawab, sekaligus memecahkan permasalahan yang dia hadapi.

Adegan tersebut adalah proses coaching yang diperagakan John Barr, Kepala Sekolah Meadowbrook Primary School dan Hillary Eade dari Manor C of E Primary School, Inggris. John dan Hillary adalah bagian dari tim pelatihan school leadership program yang ditujukan kepada para kepala sekolah di Indonesia. Sebanyak 90 kepala sekolah dan calon kepala sekolah dari berbagai daerah di Indonesia, yang mewakili sekolah-sekolah bertaraf internasional, sekolah kejuruan dan sekolah luar biasa, menghadiri School Leadership Symposium di Hotel Atlet Century Park, Jakarta, awal April lalu. Read more…